Selasa, 27 November 2012

Mainstream VS Idealis

loading...
Kamu adalah penentu arah hidup kamu kelak. So, apa yang kamu inginin, apa yang kamu bisa, pokoknya segala sesuatu yang menyangkut hobi dan passion kamu dah, itu harus diketahui sedari dini. Siapa yang bertanggungjawab untuk mengetahuinya? Tentu saja kamulah. Kamulah satu-satunya, hehe, kok jadi nyanyi gini ^_^. Kamu sendirilah yang musti bertanggungjawab terhadap masa depan kamu. Bukannya memberi kamu beban dalam hidup, dan bukan pula berniat untuk menakut-nakuti dirimu. Tapi inilah kedewasaan, welcome to the more responsibility world. Selamat datang di dunia yang penuh tanggung jawab. Lebih bertanggungjawab dalam bersikap dan bertindak, karena hal ini akan mempengaruhi pembentukan karakter kamu kelak dan perwujudan cita-citamu.

Tulisan ini tak lebih merupakan sebuah pencitraan kegalauan dari seseorang. Galau dalam hidup yah yang aku maksud, bukan galau karna cinta. Uuuhhh, buang jauh-jauh dah kalau galau karna cinta. Biasanya hal ini terjadi ketika lulus SMA. Saat itu kita dihadapkan pada pilihan yang beragam diikuti dengan tanggung jawab dan konsekuensi dalam menjalaninya. Sehabis lulus SMA, penulis sangat bingung, bingung karena nggak ada pandangan dan acuan mau kemana setelah lulus nanti. Dari orang tua sih nyante aja mau kuliah dimana aja juga Ok, tapi yang disuruh kuliah ini malah nggak tahu mau kuliah apa. 

Kelak mau jadi apa juga masih absurd saat itu. Mau ikut-ikutan kuliah di keguruan kayak temen-temen yang lain, but that's not my passion. Urung dah niat. Mau ambil akuntansi melanjutkan ilmu yang dari SMA, takut malah pusing, mimisan dan pingsan ntar kalau hitung-hitungan. Uuuh,,bingung pokoknya. Nah, akhirnya berniat untuk berhenti 1 tahun abis SMA, sambil nunggu wangsit mau kemana baiknya. Tapi bukannya itu buang-buang waktu?? Sangatlah tak bijak v(ಥ ̯ ಥ)v Namun akhirnya nggak jadi nunggu 1 tahun :D, selang beberapa bulan ada info kuliah beasiswa. Ikut itu dah akhirnya, dan jurusannya akuntansi, wehhh, ,, :D :-/ Tapi aku ambil aja deh, toh cuma setahun ini pendidikannya. Lagian di perkuliahan itu aku dapat pengalaman baru yang mengajarkanku about what's the meaning of love, suit,,suit..(✿◠‿◠) dan segudang hal absurd dalam cinta, zzzzzz. ̿ ̿̿'̿'\̵͇̿̿\=(•̪●)=/̵͇̿̿/'̿̿ ̿ ̿ ̿

Setahun kuliah barulah aku tahu passionku dimana. Sangat-sangat melenceng dari akuntansi, hmmm, adalah komputer, teknologi informasi menjadi passionku. Disamping itu, aku pun hobi bermusik. Nggak tahu kenapa kalau ngeband gitu rasanya asyik, enjoy, memacu adrenalin dan nggak bikin mimisan apalagi pingsan. Yah meskipun skill musik tak seberapa, tapi karna tongkrongannya ama anak-anak musik, jadi ketularan lebih deh semangat bermusiknya. Namun tetap aja skill musik masih cetek, haha, emang dasarnya pemalas, huhu.. (●´ω`●)
follow your passion well
Lain lagi cerita dari saudaraku tentang perkuliahannya. Dia ini selama kuliah sempat ganti-ganti jurusan sebanyak 3 kali, Nahlo !! Selain buang-buang waktu, tentu buang-buang duit juga kan. Ya di sinilah betapa krusialnya mengetahui tujuan hidup sedari dini. 

Sekiranya memasuki kelas 2 atau XI SMA, kita harus sudah mempunyai jiwa idealis dalam menggapai cita-cita. Tak perlulah kita ikut-ikutan berfikir mainstream seperti teman-teman lain, kecuali teman tersebut satu visi dengan kita. Pikiran mainstream merupakan pikiran kebanyakan orang pada umumnya.

Kita harus jadi idealis dalam bercita-cita. Sebagai awalan, perhatikan diri kamu, apa yang menjadi passion kamu. Ikuti, turuti dan kembangkan passion tersebut, selama itu positif tentunya. Misalnya kamu hobi menggambar, kuliah aja di DKV (Desain Komunikasi Visual), biar kelak kamu bisa jadi kartunis atau illustrator handal. Yang demen nulis, bisa kuliah di sastra. Ntar bisa jadi penulis buku, bisa juga jadi blogger profesional, Kamu demen musik, ya kuliahnya di musik, kembangkan itu bakat kamu. Dan masih banyak lagi contohnya.

Pokoknya kamu harus idealis dalam bercita-cita, dengan mengkesampingkan pemikiran mainstream dan tentunya penuh konsekuensi, dedikasi, serta tanggung jawab yang tinggi. Tanpa paksaan dari ortu juga, ikutilah panggilan jiwa kamu. Tak peduli cercaan bahkan cacian orang lain, lagian bukan mereka juga yang bayarin kuliah kamu. Percayalah, mereka hanya bisa berujar saja. Buktikan prestasi dalam passion kamu. Dan satu hal krusial lain yang jangan sampai lupa adalah ridho orang tua. Kamu harus bisa jelasin dengan baik cita-cita kamu itu pada orang tua. Kemukakan pendapat kamu dengan arif dan bijak. InsyaAllah orang tua akan mendukung cita-cita kamu, sehingga perjalanan kamu meraih cita-cita akan semakin lancar, asyik dan penuh berkah :) Hmmm, itulah selaksa opini anax kolonx di siang bolong ini. Moga bisa memberi setitik cahaya dalam gelapnya kegalauan (。◕‿◕。)

Sumber gambar : http://ridwansyahyusufachmad.com
Mainstream VS Idealis Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown
 

Top