Minggu, 03 Maret 2013

Kisah Anas bin Malik : Mengagumi Untuk Mengabdi

loading...
Anas kecil sudah mencintai Rasulullah karena mendengar kisah-kisah perjuangan beliau dari ibunda tercinta. Meskipun belum pernah berjumpa dengan Rasulullah, Anas sudah merindukan beliau. Seringkali laki-laki yang biasa dipanggil Unais (anak kecil) ini berharap dapat ke Mekkah menjumpai Rasulullah. Kerinduan Anas pun terbalas saat Rasulullah SAW bersama Abu Bakar mengadakan perjalanan ke Yatsrib (Madinah), tempat tinggal Anas. Bersama warga lain, Anas sangat bersemangat menemui beliau dengan menjadi bagian terdepan barisan anak-anak.

Tidak lama setelah Rasulullah tinggal di Madinah, Al-Ghumaisha (ibu Anas) datang menemui beliau. Saat itu Anas masih berusia sepuluh tahun. Al-Ghumaisha mengucap salam dan berkata, "Ya Rasulullah SAW, semua laki-laki dan wanita dari Anshar telah memberimu hadiah, tetapi aku tidak mempunyai apapun yang bisa aku jadikan hadiah untukmu selain anak laki-lakiku ini. Terimalah dia, dan dia akan berkhidmat kepadamu sesuai apa yang engkau inginkan."

Rasulullah memandang anak itu dengan wajah berseri-seri, tangannya mengusap kepala Anas dengan tangan mulia beliau, menyentuh ujung rambutnya dengan jari-jari lembut beliau, dan segera menganggapnya sebagai keluarga. Selama 10 tahun, Anas berada di bawah bimbingan Rasulullah sampai beliau berpulang ke rahmatullah.

Hidup dengan bimbingan nabi membuat jiwanya tersucikan, hatinya penuh dengan pemahaman hadist, hidupnya dalam teladan akhlak mulia, serta mengetahui sifat-sifat terpuji Rasulullah yang tidak dikenal orang lain. Bagi Anas, Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya. "Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasul, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan perintah yang diberikan oleh Rasulullah SAW".

Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah SAW yang dengan tersenyum berkata, "Wahai Unasi, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?" Dengan salah tingkah aku menjawab, "Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam."

Kecintaan pada nabi menjadikan hati dan jiwa Anas penuh dengan nasihat dan petuah beliau. Salah satu pesan nabi pada Anas yang sering dipanggilnya "Anakku" adalah sabda berikut : "Wahai anakku, jika kamu mampu mendapatkan pagi dan petang sementara hatimu tidak membawa kebencian kepada seseorang, maka lakukanlah. Wahai anakku, sesungguhnya hal itu termasuk sunahku, barangsiapa menghidupkan sunahku maka dia mencintaiku. Barangsiapa mencintaiku maka berarti dia bersamaku di surga. Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, karena ia merupakan keberkahan bagimu dan keluargamu."

Kekaguman Anas pada Rasulullah menjadikannya sangat bersungguh-sungguh untuk mengikuti beliau dalam sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau, mencintai apa yang beliau cintai, dan membenci apa yang beliau benci. Bahkan, dua hari yang paling diingat oleh Anas dalam hidupnya dalah hari pertama kali pertemuannya dengan Nabi dan hari perpisahannya dengan baliau untuk terakhir kali. Kedekatan Rasulullah pada Anas membuat beliau sering berdoa untuknya. Salah satu doa beliau untuk melimpahkan harta dan anak bagi Anas dijawab Allah dengan memberi umur hingga 103 tahun. 

Sepeninggal Rasulullah pun, kekaguman dan kecintaan Anas pada sosok mulia tersebut tidak berkurang. Anas senantiasa berjuang menjaga pelaksanaan sunnah dengan menjadi salah satu periwayat hadist. Dia adalah orang ketiga setelah Abu Hurairah dan Bdullah bin Umar dalam meriwayatkan hadist Rasulullah.

Anas sangat berharap mendapatkan syafaat Nabi di hari kiamat. Dia sering berkata, "Sesungguhnya aku berharap bisa bertemu Rasulullah SAW di hari kiamat," lalu aku berkata kepada beliau, "Aku adalah pelayan kecilmu, Unais."

Anas sempat sakit sebelum meninggal. Saat itu, dia berpesan pada keluarganya untuk "ditalqin" dengan kalimat tauhid (Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadur Rasulullah). Maka Anas senantiasa mengucapkan kalimat persaksian itu hingga dia meninggal.

Semoga kecintaan dan pengabdian Anas pada Rasulullah membantunya mendapat syafaat beliau di hari akhir. Amiin.
Kisah Anas bin Malik : Mengagumi Untuk Mengabdi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown
 

Top