Sabtu, 27 April 2013

Ketika Cinta Menyapa

Ngomongin soal cinta emang nggak ada habisnya. Postingan ini adalah sekuel dari postingan kemarin yang berjudul Cinta Untuk Dia. Tak dipungkiri lagi kalau cinta, apapun bentuknya dan kepada siapapun tujuannya, maka ia membentuk sebuah rasa mengasihi dan memberikan yang terbaik untuk yang dicintai. Begitu pula jika kamu jatuh cinta pada seseorang yang mampu meluluhkan hatimu. Namun, bagaimana memanajemen cinta yang masih dalam koridor yang dibolehkan agama?

Berikut beberapa kiatnya :
  1. Pahami Dulu Hatimu. Sebelum kamu siap untuk memberikan hati dan perhatianmu untuk orang yang terkhusus, alangkah bijaknya jika kamu memahami dulu apa yang sebenarnya dibutuhkan hatimu. Memang tak mudah untuk merincikan hal itu, tapi dengan memahami hatimu terlebih dulu, kamu bisa menyeimbangkan antara keinginan dan kebutuhan untuk dirimu sendiri. Dengan begitu, kamu masih punya pegangan untuk merasa berharga, tidak selalu kamu yang berkorban demi mendapatkan cinta darinya.

  2. Cintai Dahulu Allah, Rasulullah, dan Kedua Orang Tuamu. Cinta tertinggi adalah milik Allah, Sang Maha Cinta. Bagaimana mungkin kamu bisa mencintai seseorang lebih besar daripada kamu mencintai Allah? Mencintai Allah tidak hanya sekedar menjalankan perintah dan menjauhi larangan untuk hidup yang sebenar-benarnya hidup, tapi juga belajar untuk mencintai siapa-siapa yang dicintai oleh Allah, di dalamnya ada Rasulullah. Kita bisa meneladani bagaimana cara Rasulullah mencintai dan menunjukkan rasa cinta itu tanpa mengurangi rasa cintanya pada Allah. Begitu pula mencintai kedua orang tuamu. Bagaimanapun juga mereka adalah orang yang terlebih dahulu mencintaimu dengan segenap rasa dan usaha agar kamu tumbuh menjadi anak shalih/shalihah.

  3. Selalu Gunakan Akal Untuk Menyeimbangkan Kerja Perasaan. Hatimu adalah kontrol saat otakmu larut bekerja tanpa menggunakan perasaan, dan otak adalah kontrol ketika hatimu bekerja terlalu mendominankan perasaan. Semua hal yang terlalu itu tidak baik, dan Allah sudah menyiapkan hal lain untuk menyeimbangkannya. Akal di sini dapat berfungsi menjadi pengontrol ketika kamu terlalu larut dalam kedukaan dan ketika kamu terlalu terbang tinggi dalam euforia duniawi.

  4. Nikmatilah Perasan Jatuh Cinta Itu. Bagaimanapun juga pencipta rasa itu adalah Allah, Sang Pemilik Rasa. Maka ketika cinta itu datang menyapa dalam hidupmu, jalani saja dengan normal. Bersyukurlah karena kamu masih diberi kesempatan oleh-NYA dengan perasaan indah itu dan tidak mengurangi rasa cintamu kepada-NYA. Justru dengan mencintai seseorang, kamu akan belajar untuk lebih dalam lagi mencintai Allah, Sang Pemilik Cinta Sejati.
Sumber Gambar : www.kasyifatussaja.blogspot.com