Jumat, 03 Juni 2016

Bagaimana Hukum Wanita yang Berpuasa tapi tak Berjilbab?

Alhamdulilah, sebentar lagi seluruh umat muslim di dunia akan menyambut bulan Ramadhan. Bulan yang dinanti-nantikan, karena di bulan Ramadhan seluruh pintu neraka ditutup. Setan dibelenggu, dan semua amalan baik dilipatgandakan ganjarannya.

Semua umat muslim wajib hukumnya menjalankan puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, kecuali jika ada halangan yang membuatnya tidak dapat berpuasa. Begitu juga muslimah, wajib menjalankan puasa Ramadhan. Namun sayangnya, masih banyak muslimah yang berpuasa Ramadhan tapi belum menutup auratnya dengan baik. Bagaimana hukumnya?
Wanita berjilbab dan puasa / Gambar via muslmvillage.com
Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa baginya kecuali rasa lapar." (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah)

Syaikh DR. Yusup Al Qardhawi menjelaskan, bahwa puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk menyucikan jiwa, menghiduptkan hati, dan menguatkan iman serta mempersiapkan seseorang menjadi bertaqwa.

Jadi, orang yang berpuasa harus membersihkan puasanya dari hal yang merusak dan mengotorinya. Ia harus bisa menjaga mata, telinganya, dan anggota badan dari kemaksiatan. Membuka aurat (tidak berjilbab) merupakan salah satu bentuk dari kemaksiatan.

Bahkan, membuka aurat ini dapat menimbulkan kemaksiatan bagi diri sendiri dan orang lain. Karena orang lain yang melihat akan terpicu nafsunya dan terbawa maksiat.

Ada dua pendapat mengenai wanita tidak berjilbab yang berpuasa. Pendapat pertama yang dipegang oleh Al Auza'i dan Ibnu Hazm dari kalangan Zhahiriyah., bahwa hal tersebut membatalkan puasa. Menurut ulama salaf ini, berdusta, mengumpat, ghibah, melihat aurat, dan memperlihatkan aurat kepada orang lain membuat puasa menjadi batal.

Sedangkan pendapat kedua, kemaksiatan tidak membatalkan puasa, tapi merusak pahala puasa. Menurut jumhur ulama', tidak seorangpun bisa benar-benar bersih dari kemaksiatan, khususnya kemaksiatan lisan.

Imam Ahmad berkata, "Andaikata ghibah membatalkan puasa, niscaya kita tidak dapat berpuasa."

Jadi, wanita yang tidak berjilbab tidak batal puasanya, namun kemungkinan pahala puasanya yang berkurang. Dikhawatirkan puasanya tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.