Sabtu, 20 Agustus 2016

Sejarah Tanaman Jengkol Di Indonesia Serta Bentuk Pohonnya

Jengkol bukanlah tanaman asli Indonesia, namun olahan jengkol cukup banyak ditemukan di Indonesia, mulai dari keripik jengkol, lalapan hingga semur jengkol. Meski terkenal menyebabkan bau, hampir semua orang Indonesia mengenal jengkol, bahkan sudah memakannya. Namun saya percaya kalau masih sedikit yang mengetahui asal usul jengkol, apalagi melihat bentuk pohon aslinya.

Ngomongin soal jengkol, ada baiknya kita mengenal lebih dalam tentang sejarah buah polong-polongan berbentuk gepeng ini. Jengkol memiliki nama latin Pithecellobium jiringa atau Pithecellobium lobatum
Jengkol mentah dan kulitnya / gambar via wikipedia
Tanaman ini sangat khas di Asia Tenggara. Kita dapat dengan mudah menemukannya di Indonesia, Malaysia, Myanmar hingga Thailand. Di Indonesia sendiri, nama lain jengkol juga bermacam-macam. Misalnya kalau di Jawa kita menyebutnya jengkol, di Batak dikenal sebagai jering. 

Perkembangan jengkol di Indonesia

Tak seperti di Jakarta, orang Sumatera belum terbiasa membudidayakan tanaman jengkol. Bagi orang Sumatera, jengkol lebih sering dianggap sebagai makanan murahan. Hal ini dikarenakan olahan jengkol yang menyebabkan bau tak sedap, baik pada nafas maupun sisa pencernaan. Orang yang memakan jengkol juga sering menjadi bahan ejekan.

Lain halnya dengan orang Jakarta. Masyarakat Jakarta terutama orang-orang betawi banyak yang membudidayakan tanaman jengkol dengan menanamnya di pekarangan rumah. Saking banyaknya, wilayah Pondok Gede dan Lubang Buaya sangat terkenal dengan masakan semur jengkolnya, dan disebut sebagai makanan khas orang Betawi. Baca : Makanan berlemak ini membuat perut menjadi rata

Sampai sekarang belum ditemukan adanya catatan resmi mengenai awal mula masuknya jengkol ke Indonesia. Dalam Babad Giyanti karya Yosodipuro, disebutkan bahwa pohon jengkol sudah pernah digunakan sebagai patok cikal bakal kota Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwono I. 

Dulu jengkol identik dengan makanan rakyat pinggiran, bahkan juga dianggap sebagai makanan sampah. Namun sekarang, orang-orang sudah banyak yang menyukainya, termasuk orang-orang kota. Selain sebagai lauk pauk, jengkol juga bisa digunakan sebagai obat diare, diabetes, baik untuk kesehatan jantung, sebagai bahan keramas serta penambah karbohidrat.

Pohon jengkol

Tinggi pohon jengkol bisa mencapai 26 meter dan bisa hidup di dataran tinggi maupun rendah. Pohon jengkol juga memiliki kemampuan menyerap air tanah yang tinggi, sehingga bermanfaat dalam konservasi air di suatu tempat.
Pohon Jengkol / gambar via fairfun.net
Meski bisa dimakan, jengkol juga diketahui mengandung racun yang berasal dari asam jengkolat. Kasus keracunan jengkol di Indonesia pernah dilaporkan oleh dokter peneliti dari Belanda, Van Veen dan Hyman. 

Dalam bukunya, Hyman menyebut bahwa pada zaman penjajahan Belanda terdapat kasus keracunan jengkol yang banyak dialami orang-orang Jawa. Sayangnya dalam buku tersebut, ia tidak memberikan perincian secara lengkap mengenai jumlah kasusnya.
Sejarah Tanaman Jengkol Di Indonesia Serta Bentuk Pohonnya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown
 

Top